PEGERTIAN WAHYU SCR ETIMOLOGIS
Menurut bahasa
(lughah), kata wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy yang memiliki
beberapa arti, di antaranya; suara, tulisan isyarat, bisikan, paham dan juga
api. Tetapi ada juga yang mengartikan bisikan yang tersembunyi dan cepat. Dengan demikian,
pengertian wahyu secara etimologis
adalah :
PENYAMPAIAN SABDA TUHAN KEPADA
MANUSIA PIIHAN-NYA TANPA DIKETAHUI ORANG LAIN , AGAR DITERUSKAN KEPADA UMAT
MANUSIA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI PEGANGAN HIDUP BAIK DI DUNIA MAUPUN DI AKHIRAT
KELAK
KATA WAHYU DALAM AL-QUR’AN
n
Ilham al-gharizi lil insan (Ilham naluriah bagi manusia). Seperti wahyu terhadap
Ibu Nabi Musa a.s. dlm Q.S. Al-Qashash/28:7).
n
Ilham al-Gharizi lil hayawan (Ilham naluriah bagi binatang). Seperti wahyu Allah pada lebah dalam
Q.S. an-Nahl/16:68)
n
Isyarat yang cepat dalam bentuk lambang dan petunjuk.
Seperti isyarat Nabi zakaria kepada kaumnya untuk mengagungkan Tuhan-Nya dalam
Q.S. Maryam/19:11)
n
Bisikan dan tipu daya syetan untuk mengajak manusia
berbuat kejahatan. Di antaranya terdapat dalam Q.S. al-An’am/6:112)
n
Perintah Tuhan kepada para Malaikat supaya
melaksanakannya. Dlm Q.S. al-Anfal/8:12.
PENGERTIAN WAHYU SECARA TERMINOLOGIS
PEMBERITAHUAN ALLAH SWT KEPADA
HAMBANYA YANG TERPILIH MENGENAI SEGALA SESUATU YANG IA KEHENDAKI UNTUK
DIKEMUKAKANNYA, BAIK BERUPA PETUNJUK ATAU ILMU, NAMUN PENYAMPAIANNYA SECARA
RAHASIA DAN TERSEMBUNYI SERTA TIDAK TERJADI PADA MANUSIA BIASA.
Proses komunikasi Allah kepada
Malaikat
n
Komunikasi pewahyuan antara Allah dg para malaikat
sering terjadi, dan terjadi secara langsung tanpa perantara bahkan malaikatpun
tanpa kesulitan dalam memahami firman Allah tersebut. Contoh Q.S.
al-Baqarah/2:30. al-Anfal/8:12.
Proses komunikasi Allah kepada
Nabi/Rasul
§
Sebagaimana Q.S. al-Syura/42:51 terdapat tiga bentuk
komunikasi antara Allah dengan Nabi/Rasul:
1.
Melalui Wahyu (komunikasi misterius). Dalam hal ini
kebenaran yang disampaikan kedalam kalbu atau jiwa seseorang tanpa terlebih
dahulu timbul pikiran dan kebenaran itu menjadi terang bagi yang bersangkutan .
Wahyu dalam bentuk yang pertama ini semacam komunikasi langsung yang merupakan
karunia khusus dari Allah yg diberikan kepada Nabi pilihan-Nya. Seperti mimpi
yang benar yang diterima oleh Nabi Ibrahim Q.S. al-Shaffat/37: 101-112. dan
mimpi yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad sebelum menerima Q.S. al-Alaq.
2.
Dari Balik Tabir: Penerimaan wahyu pada kasus ini sama
sekali tidak melihat si pemberi wahyu. Sekalipun tidak melihat apa-apa, Nabi
mempunyai kesadaran yang sangat jelas bahwa di suatu tempat di dekatnya ada hal
ghaib yang berbicara kepadanya dengan cara yang asing. Misalnya Q.S.
Al-A’raf/7:143; Q.S. an-Nisa’/4:164.
3.
3. Komunikasi Verbal melalui utusan khusus. Q.S.
al-Syu’ara’/26: 192-196
DUA WAHYU ALLAH
§
AL-QUR’AN
1.
Lafadz dan maknanya dari Allah
2.
Membacanya termasuk ibadah
3.
Wajib dibaca pada waktu sholat
4.
Semua diriwayatkan secara mutawatir
§
AL-HADITS
1.
Makna dari Allah lafadz Nabi Muhammad
2.
Tidak ada keterangan bahwa membacanya bernilai ibadah
3.
Tidak boleh dibaca pada saat sholat
4.
Kebanyakan diriwayatkan secara ahad
FUNGSI ADANYA 2 WAHYU
1.
DAPAT MERINGANKAN UMAT ISLAM
2.
DAPAT MENJAGA KEMURNIAN SYARIAT ISLAM
FUNGSI WAHYU
Diantaranya:
1.
Untuk memberikan petunjuk berkaitan dengan sesuatu
yang ghaib dan diluar jangkauan akal.
2.
Untuk memberikan gambaran kehidupan setelah kematian
3.
Untuk mengatur kehidupan sosial ditengah-tengah
masyarakat.
AL-QUR’AN (1)
(Pendahuluan)
(Pendahuluan)
۞ Al-Qur’an yang secara
harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan nama pilihan Allah yang sungguh
tepat, krn tiada satupun sejak manusia mengenal tulis-baca dapat menandingi
al-Qur’an al-Karim (bacaan yang mulia)
۞ Tiada bacaan semisal
al-Qur’an yang dibaca ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya atau tidak
dapat menulis aksaranya, bahkan dihafal huruf perhuruf oleh orang dewasa,
remaja, dan anak-anak.
۞ Al-Qur’an layaknya
permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang
masing-masing.
۞ Tiada bacaan seperti
al-Qur’an yang diatur cara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan,
dipertebal atau diperhalus ucapannya, dimana tempat yang terlarang atau boleh,
harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada
etika membacanya.
۞ Tiada bacaan sebanyak
kosakata al-Qur’an yang berjumlah 77.439 kata dg jumlah huruf 323.015 huruf
yang seimbang kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, maupun kata dg
lawan kata, dan dampaknya. Mis. Kata hayat (hidup) sebanyak antonimnya maut
(mati) masing-masing 145 x. akhirat terulan 115 x sebanyak kata dunia.
Malaikat terulang 88 x sebanyak kata syetan. Kata yaum terulang sebanyak 365 x sebanyak jumlah hari
dlm setahun, kata syahr (bulan) terulang sebanyak 12 x sebanyak jumlah
bulan dalam setahun
AL-QUR’AN (2)
(Makna Etimologis)
(Makna Etimologis)
•
Kata al-Qur’an adalah ismun jamid ghairu mahmudz
(suatu isim yang berkenaan dengan nama yang khusus diberikan al-Qur’an (pendpt.
Asy-Syafi’i)
•
Kata al-Qur’an merupakan pecahan dari kata qaro’in
(jama; dari kata qorinah), yang
berarti kaitan, indikator, petunjuk. Sebab
sebagaian ayat-ayat al-Qur’an itu serupa dengan ayat-ayat yang lain,
oleh karenanya seolah-olah sebagain ayat-ayatnya merupakan indikator (petunjuk)
dr apa yang dimaksud oleh ayat-ayat lainnya (Pendpt. Al-Farra’)
•
Kata al-Qur’an merupakan pecahan dari kata qarona
yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain”, sebab surat-surat dan
ayat-ayat dalam al-Qur’an dihimpun dan digabungkan dalam satu mushhaf.(Pendpt.
Al-Asy’ari).
•
Al-Qur’an berasal dari bahasa hebrew “kiryani’’
yang berarti yang dibacakan (Pendpt. Weelhausen).
•
Al-Qur’an terambil dari asal kata al-qor’u yang
berarti al-jam’u “penghimpunan”, karena di dalamnya memuat kumpulan
intisari dari kitab-kitab terdahulu (Pendpt. Az-Zajjaj)
•
Al-Qur’an mengikuti wazan Ghufran, merupakan
pecahan dari akar kata qoro’a, yg berarti tala (membaca). Lafadz
al-Qur’an adalam isim mashdar dengan arti isim maf’ul, yaitu al-maqru’
“yang dibaca” (pendpt. Al-lihyani) (Q.S. al-Qiyamah (75): 17-18.)
AL-QUR’AN (3)
(TERMINOLOGIS-1)
(TERMINOLOGIS-1)
•
Firman Allah yang mengandung mukjizat, yang diturunkan
kepada Nabi dan Rasul terakhir, dengan perantara Malaikat Jibril, yang tertulis
dalam mushhaf, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang membacanya
dianggap sebagai ibadah, yang dimulai dari surat al-Fatihah dan ditutup dengan
surat an-Nas.
•
Lafadz berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang membacanya
dianggap sebagai ibadah, yang menantang setiap orang untuk menyusun walaupun dg
membuat surat yang terpendek dari padanya yang dimulai dari surat al-Fatihah
dan ditutup dengan surat an-Nas.
•
Perkataan yang mengandung mukjizat yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad yang tertulis dalam mushhaf yang disampaikan secara
mutawatir yang membacanya dianggap sebagai ibadah.
AL-QUR’AN (3)
(TERMINOLOGIS-2)
(TERMINOLOGIS-2)
1.
Al-Qur’an merupakan Firman Allah. (al-Kahfi [18]:109
dan Lukman [31]: 27)
2.
Al-Qur’an berbahasa Arab (Yusuf [12]: 2)
3.
Al-Qur’an adalah Mu’jizat (an-Nisa’ [4]: 82)
4.
Al-Qur’an diterima secara mutawatir
5.
Al-Qur’an tertulis dalam mushhaf
6.
Al-Qur’an memberikan tantangan kepada siapa saja yang
ingin menandinginya (al-Isra’ [17]:88; Hud [11]: 13; Yunus [10]: 38).
7.
Al-Qur’an adalah bacaan yang bernilai ibadah bagi
pembacanya (HR. al-Bukhari dan HR.Tirmidzi)
8.
Al-Qur’an diawali dari Surat al-Fatihah dan diakhiri
dengan surat an-Nas.
AL-QUR’AN (4)
(Nama lain al-Qur’an)
(Nama lain al-Qur’an)
Al-Fairuz Abadi mengatakan ada
sekitar 100 nama lain dari al-Qur’an. Di antara sekian banyak nama, yang paling
terkenal adalah al-Kitab (al-Baqarah [2]: 2; al-A’raf [7]: 2 dll) dan al-Qur’an
(al-Baqarah [2]: 185; al-Hijr [15]: 87; dll). Di namakan Al-Kitab karena
memberi pengertian karena wahyu itu dirangkum dalam bentuk tulisan yang
merupakan huruf-huruf dan menggambarkan ucapan. Dinamakan al-Qur’an karena wahyu itu tersimpan dalam dada manusia,
mengingat nama al-Qur’an berasal dari kata qira’ah dan di dalam qiro’ah
terkandung makna “agar selalu diingat”. Dengan dua nama tersebut mengisyaratkan
makna wahyu tersebut akan senantiasa terpelihara dalam dua bentuk hafalan
dan tulisan.
Selain dua nama lain al-Qur’an di
atas, yang juga masyhur adalah al-Furqan (Ali Imran [3]: 4; al-Furqan
[25]:1 ; dll), azd-Dzikr (al-Hijr [15]: 9); at-Tanzil (as-Syu’ara
[26]: 129) dan masih banyak yang lain.
SEJARAH PEMELIHARAAN AL-QUR’AN
•
Pemeliharaan al-Qur’an terletak pada proses
pengumpulannya (al-Jam’u). Sedangkan pengumpulan al-Qur’an bisa dimaknai
dengan 3 pengertian:
1.
Menghafal al-Qur’an secara hati-hati
2.
Penulisan dan pembukuan seluruh isi al-Qur’an
(kodifikasi)
3.
Merekam suara bacaan al-Qur’an
KODIFIKASI AL-QUR’AN (1)
1.
Pada masa Rasulullah:
a.
Para penulis wahyu (al-Kutab al-wahyi
sekretaris pribadi( hanya menulis Al-Qur'an saja dalam satu alat tulis ) : Abu
bakar, Umar bin al-Khatab, Usman bin affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin
tsabit, Ubay bin kaab, Muawiyah bin abi Sufyan, Yazin bin Abi Sufyan, Khalid
bin Sa’id al-Ash, Handhalah bin ar-Rabi’, Zubair bin al-Awwam, dll. Sedangkan
kreatifitas sahabat disebut Ijtihad ( menulis Al-Qur'andan penjelasannya
).
b.
Pola pengumpulan: Zaid bin Tsabit mengatakan, “Kami
bersama Rasulullah megurutkan al-Qur’an pada kulit daun.” Maksudnya
adalah: kami mengumpulkan secara teratur dan tertib ayat-ayatnya di kulit kayu
atau kulit daun”.
c.
Alat Tulis: pelepah kurna, batu-batu yang tipis,
potongan dari kulit kayu atau dedaunan, kumpulan pelepah kurma yang lebar,
tulang kambing, tulang unta yang lebar.
KODIFIKASI AL-QUR’AN (2)
2. Pada Masa Abu Bakar:
a.
Latar Belakang: peristiwa perang yamamah pada tahun ke
2 H yang telah merenggut banyak nyawa
para penghafal al-Qur’an.
b.
Pengusul: ‘Umar bin al-Khattab.
c.
Zaid bin Tsabit terpilih sebagai ketua Tim
karena: 1. termasuk penghafal al-Qur’an,
2. Menyaksikan “pertemuan terakhir” terhadap al-Qur’an. 3. termasuk penulis
wahyu untuk Rasulullah, 4. cerdas dan berakhlak mulia.
d.
Metode pengumpulan: Tautsiq dan Tatsabbut.
e.
Prinsip: 1. Apa yang ditulis di hadapan Rasulullah
2.apa yang dihafal oleh pada sahabat, 3. disetujui oleh dua orang saksi, 4. Apa
yang telah diterima oleh sahabat dari Rasulullah.
KODIFIKASI AL-QUR’AN (3)
2. Pada Masa Usman bin Affan:
a. Latar Belakang:
Perbedaan dialek bacaan (fatabayyanu dan fatastabbatu (Q.S. al-Hujurat: 6).
b.
Panitia: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said
bin al-Ash, Abdurrahman bin al-Harits al-Hisyam. ( pembukuan Al-Qur'an dari
beberapa orang Qurais dengan tujuan menghilangkan perbedaan )
c.
Metode pengumpulan: Mengihilangkan tanda ganda
d.
Prinsip: 1. Usman meminta al-Qur’an yang disimpan di
rumah Hafshah dan menyerahkan kepada tim untuk di salin. 2. jika ditemukan satu
ayat mengandung lebih dari satu bacaan, maka dipilih mana yang bacaan Arab
Qurais. 3. setelah selesai digandakan dan dikirimm ke Makah, Madinah, di Kufah,
Syam, dan Basrah.
( harakat belum ada hanya
titik ) pemberian harakat pada masa Ali Bin Abi Thalib oleh : Abu
Aswad Addu'ali
Tambahan :
Hikmah orang yang menghafal Al-Qur'an;
- Jaminan masuk surga
- Bagai buah yang luar
dan dalamnya sangat menggiurkan
- Dikedapankan dalam hal apapun
Kodifikasi Al-Qur'an dilakukan 3
kali
-
pada masa Rasul (
mengurutkan ayat Al-Qur'an ). Abu Bakar ( Tautsiq dan tatsabbut )
Tautsiq : menyalin Al-Qur'an dari alat tulis yang
beragam kedalam satu bahan alat tulis.
Tatsabbut : menetapkan salinan Al-Qur'an yang terdapat
dalam alat tulis yang sama menjadi Al-Qur'an resmi ( tapi masih belum
ada titik)
Urutan ayat secara:
Tauqifi : urutan ayat Al-Qur'an ditetapkan oleh Rasulullah atas izin Allah
Urutan Surat secara ::
Ijtihad dan tauqifi
Jumlah ayat Al-Qur'an
6200…..an
Ada 2 Mushaf
Mushaf yang kita pegang adalah
mushaf Ustmani
Mushaf Rekaman suara bacaan
Al-Qur'an dalam piringan hitam lengkap
dengan peralatan modernnya dengan empat tingkatan
( kecepatan dan kelambatan ) bacaannya
1.
Tahqiq : paling lambat dengan durasi per juz 2,5-3 jam
2.
tartil ;
3.
Tadwir :
4.
hard : Paling Cepat 3/4 jam per juz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar