Agaknya
saya cukup tercengang ketika seorang teman mengajak untuk berbincang masalah
hutang luar negeri Indonesia. Alasan sederhananya karena saya kurang menguasai
topik tersebut dan juga toh nantinya
berujung pada pembicaraan politik. Namun, akhirnya topik itu menggugah selera
ingin tahu saya yang membuat saya betah berlama-lama duduk di depan layar PC. Pada
awalnya kami hanya berbincang hal-hal ringan seperti bertukar kabar tentang
kondisi masing-masing, dan kesibukan sehari-hari. Sampai teman tersebut membuat
sebuah pernyataan, mungkin terdengar seperti sebuah celetukan renyah di
sela-sela obrolan kami. Tapi harus saya katakan bahwa hal itu mengganggu
pikiran saya karena kalau memang yang dikatakannya itu adalah kenyataan yang
terjadi betapa sedih hati saya, dan mungkin bagi bangsa Indonesia umumnya. Dalam
rasa galau yang melanda pikiran sebab obrolan saya dan kawan kala itu, akhirnya
saya menemukan sebuah artikel yang bisa dibilang sebagai jamu pahit yang
menambah getir hati saya. Ternyata yang tempo hari dibicarakan seorang kawan
itu memang benar adanya.
Di
sebuah artikel panjang yang dimuat salah satu media Online menyebutkan Presiden RI sekarang, Pak Joko Widodo
atau yang biasa dipangil pak Jokowi, mempunyai hutang luar negeri yang cukup
fantastis besar nominalnya. Bahkan saking banyaknya sampai disandingkan dengan
hutang pada masa pemerintahan Soeharto yang mencapai angka ratusan miliar
US$. Lalu, pertanyaannya adalah untuk
apa presiden yang dikenal paling sederhana ini berhutang sedemikian banyak?
Memang, alasan utama beliau meminjam uang adalah untuk menuntaskan pembangunan
di semua bidang secara menyeluruh yang sempat tertunda pada masa pemerintahan
presiden-presiden sebelumnya. Sesuai dengan moto presiden Jokowi, bekerja
bekerja dan bekerja. Nampaknya, beliau menunjukkan “kerja keras” yang getol
diucapkannya itu. Saya sangat salut kepada pak Jokowi karena tidak semua
pemimpin berani menentukan keputusan dengan risiko yang tidak main-main,
menurut saya yang awam dalam hal Management keuangan. Kekayaan negeri
taruhannya. Tidak diragukan lagi, Indonesia memang negara kepulauan yang subur makmur dan dikenal sebagai negara kaya.
Namun, apakah semua kekayaan negara ini akan dipakai untuk menutupi
hutang-hutang bapak presiden Jokowi? Lalu, bagaimana kelangsungan hidup rakyat
Indonesia setelah masa pemerintahannya? Apakah harus akrab lagi dengan
kemiskinan? Saya yakin, jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak, di tengah
kondisi bangsa Indonesia yang sudah melalui banyak krisis-krisis.
Saya sama sekali tidak menyayangkan akan
keputusan yang bapak presiden ambil tersebut, sebaliknya saya mengacungkan
jempol terhadap keputusan itu. Namun, kalau saja kita boleh berandai-andai,
jika saya bisa sehari saja menjadi presiden maka saya akan memastikan bahwa
hutang-hutang luar negeri Indonesia sudah terjamin. Maksudnya adalah terjamin
untuk lunas dan tidak menjadi beban bagi bangsa Indonesia ataupun pemerintah
berikutnya. Memang, jelas saja kiranya
pengambilan keputusan presiden Jokowi tersebut sudah dipertimbangkan secara
matang, akan tetapi tidak sedikit hal-hal yang bisa saja terjadi di luar
perencanaan. Jika kita coba renungkan, apabila dari rekonstruksi tersebut saja
sudah bisa menghasilkan banyak keuntungan misalkan, sebut saja pembangunan
jalan tol di seluruh pelosok negeri sebagai contoh. Apakah keuntungan tersebut hanya akan
dialokasikan untuk menutupi hutang? Sedangkan sebuah perusahaan membutuhkan
dana yang tidak kecil untuk keberlangsungan dan kelanjutannya di hari kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar