Sabtu, 28 Mei 2016

Menggarisbawahi Hutang Luar Negeri

Agaknya saya cukup tercengang ketika seorang teman mengajak untuk berbincang masalah hutang luar negeri Indonesia. Alasan sederhananya karena saya kurang menguasai topik tersebut dan juga toh nantinya berujung pada pembicaraan politik. Namun, akhirnya topik itu menggugah selera ingin tahu saya yang membuat saya betah berlama-lama duduk di depan layar PC. Pada awalnya kami hanya berbincang hal-hal ringan seperti bertukar kabar tentang kondisi masing-masing, dan kesibukan sehari-hari. Sampai teman tersebut membuat sebuah pernyataan, mungkin terdengar seperti sebuah celetukan renyah di sela-sela obrolan kami. Tapi harus saya katakan bahwa hal itu mengganggu pikiran saya karena kalau memang yang dikatakannya itu adalah kenyataan yang terjadi betapa sedih hati saya, dan mungkin bagi bangsa Indonesia umumnya. Dalam rasa galau yang melanda pikiran sebab obrolan saya dan kawan kala itu, akhirnya saya menemukan sebuah artikel yang bisa dibilang sebagai jamu pahit yang menambah getir hati saya. Ternyata yang tempo hari dibicarakan seorang kawan itu memang benar adanya.
Di sebuah artikel panjang yang dimuat salah satu media Online  menyebutkan Presiden RI sekarang, Pak Joko Widodo atau yang biasa dipangil pak Jokowi, mempunyai hutang luar negeri yang cukup fantastis besar nominalnya. Bahkan saking banyaknya sampai disandingkan dengan hutang pada masa pemerintahan Soeharto yang mencapai angka ratusan miliar US$.  Lalu, pertanyaannya adalah untuk apa presiden yang dikenal paling sederhana ini berhutang sedemikian banyak? Memang, alasan utama beliau meminjam uang adalah untuk menuntaskan pembangunan di semua bidang secara menyeluruh yang sempat tertunda pada masa pemerintahan presiden-presiden sebelumnya. Sesuai dengan moto presiden Jokowi, bekerja bekerja dan bekerja. Nampaknya, beliau menunjukkan “kerja keras” yang getol diucapkannya itu. Saya sangat salut kepada pak Jokowi karena tidak semua pemimpin berani menentukan keputusan dengan risiko yang tidak main-main, menurut saya yang awam dalam hal Management keuangan. Kekayaan negeri taruhannya. Tidak diragukan lagi, Indonesia memang negara kepulauan yang  subur makmur dan dikenal sebagai negara kaya. Namun, apakah semua kekayaan negara ini akan dipakai untuk menutupi hutang-hutang bapak presiden Jokowi? Lalu, bagaimana kelangsungan hidup rakyat Indonesia setelah masa pemerintahannya? Apakah harus akrab lagi dengan kemiskinan? Saya yakin, jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak, di tengah kondisi bangsa Indonesia yang sudah melalui banyak krisis-krisis.
 Saya sama sekali tidak menyayangkan akan keputusan yang bapak presiden ambil tersebut, sebaliknya saya mengacungkan jempol terhadap keputusan itu. Namun, kalau saja kita boleh berandai-andai, jika saya bisa sehari saja menjadi presiden maka saya akan memastikan bahwa hutang-hutang luar negeri Indonesia sudah terjamin. Maksudnya adalah terjamin untuk lunas dan tidak menjadi beban bagi bangsa Indonesia ataupun pemerintah berikutnya. Memang,  jelas saja kiranya pengambilan keputusan presiden Jokowi tersebut sudah dipertimbangkan secara matang, akan tetapi tidak sedikit hal-hal yang bisa saja terjadi di luar perencanaan. Jika kita coba renungkan, apabila dari rekonstruksi tersebut saja sudah bisa menghasilkan banyak keuntungan misalkan, sebut saja pembangunan jalan tol di seluruh pelosok negeri sebagai contoh.  Apakah keuntungan tersebut hanya akan dialokasikan untuk menutupi hutang? Sedangkan sebuah perusahaan membutuhkan dana yang tidak kecil untuk keberlangsungan dan kelanjutannya di hari kemudian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar